Mengapa Allah Menurunkan Musibah?
Ketika musibah datang, seseorang mungkin bertanya, “Mengapa hal ini terjadi?” atau “Apa yang seharusnya saya lakukan?” Sumber yang tersedia tidak menerangkan secara khusus bahwa setiap musibah memiliki satu sebab atau tujuan tertentu. Karena itu, kita tidak semestinya memastikan alasan khusus di balik suatu musibah tanpa keterangan yang jelas. Namun, sumber-sumber tersebut memberikan tuntunan tentang sikap seorang Muslim dalam menjalani kehidupan: menjaga iman, bertawakal kepada Allah, menegakkan ibadah, bertakwa, memperbaiki kesalahan, dan tetap berakhlak baik. [1][2][3]
Dengan demikian, pembahasan tentang musibah sebaiknya tidak berhenti pada upaya menebak-nebak alasan tersembunyi di baliknya. Perhatian juga perlu diarahkan kepada respons yang dapat kita lakukan sebagai hamba Allah. Tujuan hidup setiap insan adalah mewujudkan penghambaan kepada Allah, sedangkan penghambaan itu tegak di atas puncak perendahan diri dan puncak kecintaan kepada-Nya. [1]
Musibah dan Kesadaran sebagai Hamba
Penghambaan kepada Allah meliputi segala hal yang membuat Allah ridha, baik berupa keyakinan, perkataan, maupun amal perbuatan anggota badan. Orang yang merendahkan diri kepada Allah dan mencintai-Nya akan tunduk kepada perintah dan larangan-Nya, melakukan apa yang Allah cintai, serta meninggalkan apa yang Allah benci. [1]
Dalam kerangka tersebut, menghadapi musibah dapat menjadi waktu untuk menata kembali arah hidup. Seorang Muslim dapat bertanya kepada dirinya sendiri: Apakah iman saya tetap terjaga? Apakah ibadah saya tetap ditegakkan? Apakah saya semakin bergantung kepada Allah atau justru menjauh? Pertanyaan-pertanyaan ini merupakan bentuk evaluasi yang selaras dengan tuntunan untuk beriman secara lahir dan batin serta menjalani kehidupan dalam penghambaan kepada Allah. [1]
Hal yang perlu dihindari adalah menjadikan musibah sebagai alasan untuk meninggalkan ketaatan. Arah hidup seorang beriman tetaplah menghambakan diri kepada Allah melalui keyakinan, perkataan, dan perbuatan yang diridhai-Nya. [1]
Menjaga Iman dan Tawakal
Allah menggambarkan sifat orang-orang beriman dalam QS. Al-Anfal: 2: [1]
إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتۡ قُلُوبُهُمۡ وَإِذَا تُلِيَتۡ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتۡهُمۡ إِيمَٰنٗا وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ [1]
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang apabila disebutkan nama Allah takutlah hati mereka, apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah imannya, dan kepada Rabbnya mereka bertawakal.” (QS. Al-Anfal: 2) [1]
Ayat tersebut menunjukkan hubungan antara mengingat Allah, bertambahnya iman, dan tawakal kepada-Nya. Karena itu, saat menghadapi keadaan yang berat, seorang Muslim memiliki arah yang jelas: kembali mengingat Allah, menerima bacaan ayat-ayat-Nya sebagai penguat iman, dan bertawakal kepada Rabbnya. [1]
Tawakal tidak perlu dipahami sebagai sikap yang terpisah dari amal. Iman mencakup sisi batin sekaligus sisi lahir, sedangkan ibadah meliputi keyakinan, perkataan, dan amal perbuatan. Dengan demikian, tawakal kepada Allah berjalan bersama ketaatan dan tindakan yang diridhai-Nya. [1]
Penjelasan yang dicantumkan dalam sumber juga menegaskan perintah untuk beriman secara lahir dan batin. Imam al-Baghawi rahimahullah menjelaskan bahwa maksudnya adalah, “janganlah kalian meninggal kecuali dalam keadaan beriman”. [1]
Pesan ini mengingatkan bahwa perkara terpenting bukan hanya kapan kesulitan berakhir, tetapi bagaimana iman tetap dijaga sepanjang kehidupan. [1]
Iman Tampak dalam Berbagai Amal
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iman terdiri dari tujuh puluh lebih cabang. Yang paling tinggi adalah ucapan laa ilaha illallah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah termasuk cabang iman.” (HR. Bukhari dan Muslim) [1]
Hadis tersebut memperlihatkan bahwa iman memiliki banyak cabang, mulai dari ucapan tauhid hingga perbuatan sederhana berupa menyingkirkan gangguan dari jalan. Rasa malu juga disebut sebagai bagian dari iman. [1]
Oleh sebab itu, menjaga iman saat menghadapi musibah tidak hanya berkaitan dengan perasaan di dalam hati. Seorang Muslim juga perlu mempertahankan perkataan dan perbuatan baik. Bahkan tindakan yang tampak sederhana dan bermanfaat bagi orang lain termasuk dalam cabang iman. [1]
Tetap Berdiri di Atas Fondasi Islam
Dalam keadaan sulit, kewajiban-kewajiban utama dalam Islam tetap perlu mendapatkan perhatian. Dari Abu ‘Abdurrahman ‘Abdullah bin ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhuma, ia mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah; mendirikan salat; menunaikan zakat; menunaikan haji (ke Baitullah); dan berpuasa Ramadan.” (HR. Bukhari dan Muslim) [2]
Dua kalimat syahadat merupakan rukun Islam yang paling agung dan simbol tauhid. Salat adalah rukun Islam yang paling agung setelah syahadat, zakat menyucikan jiwa dan harta, haji merupakan rukun Islam dan syiar besar, sedangkan puasa Ramadan adalah salah satu rukun Islam dan menjadi keistimewaan umat Islam. [2]
Hadis ini membantu kita memahami bahwa respons terhadap kesulitan tidak cukup hanya berupa renungan. Seorang Muslim tetap perlu memelihara fondasi kehidupan beragamanya sesuai dengan kemampuannya dan ketentuan yang berlaku. [2]
Musibah sebagai Waktu untuk Memperbaiki Diri
Seseorang dapat menggunakan masa sulit untuk memeriksa hubungan dirinya dengan Allah. Apabila mendapati kesalahan atau keburukan dalam dirinya, ia tidak seharusnya merasa bahwa pintu perbaikan telah tertutup. Tuntunan yang tersedia justru mengarahkan agar keburukan diikuti dengan kebaikan. [3]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada. Jika kamu melakukan keburukan, maka ikutilah dengan kebaikan, karena kebaikan itu akan menghapusnya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi no. 1987) [3]
Hadis ini memuat tiga pedoman yang dapat dijaga dalam berbagai keadaan: bertakwa kepada Allah di mana pun berada, mengikuti keburukan dengan kebaikan, serta bergaul dengan manusia menggunakan akhlak yang baik. [3]
Karena itu, evaluasi diri ketika tertimpa musibah hendaknya mengarah kepada perbaikan, bukan kepada klaim bahwa kita pasti mengetahui alasan Allah menetapkan peristiwa tersebut. Yang dapat dilakukan ialah memperbanyak kebaikan, menjaga ketakwaan, dan memperbaiki cara berinteraksi dengan orang lain. [3]
Jangan Melupakan Akhlak kepada Sesama
Kesulitan pribadi tidak membatalkan pentingnya akhlak yang baik. Hadis tentang takwa secara tegas menggabungkan hubungan dengan Allah, perbaikan setelah keburukan, dan pergaulan yang baik dengan manusia. [3]
Dalam praktiknya, seseorang yang sedang mengalami musibah tetap diarahkan untuk menjaga sikapnya kepada sesama. Pada saat yang sama, hadis tentang cabang iman mengajarkan bahwa menyingkirkan gangguan dari jalan pun termasuk cabang iman. [1][3]
Hal ini memberi gambaran bahwa masa sulit tidak harus menjadikan seseorang berhenti berbuat baik. Kesempatan melakukan amal dapat hadir dalam bentuk yang sederhana, termasuk mencegah gangguan dan menjaga akhlak dalam pergaulan. [1][3]
Tidak Menentukan Alasan Khusus Tanpa Dasar
Allah berfirman dalam QS. Al-Hajj: 18: [3]
وَمَن يُهِنِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِن مُّكْرِمٍ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَآءُ [3]
“Dan barangsiapa yang dihinakan Allah, maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apapun yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Hajj: 18) [3]
Ayat ini menegaskan bahwa Allah berbuat apa pun yang Dia kehendaki. Namun, sumber yang tersedia tidak memberikan dasar untuk menetapkan bahwa musibah tertentu pasti merupakan hukuman, tanda kehinaan, atau memiliki tujuan khusus tertentu. Karena itu, pembahasan perlu dibatasi pada hal-hal yang memang diterangkan oleh sumber. [3]
Sikap yang lebih aman adalah tidak menghakimi orang yang sedang tertimpa musibah. Arahkan perhatian kepada penjagaan iman, tawakal, ketaatan, perbaikan diri, dan akhlak yang baik. Semua itu merupakan tuntunan yang jelas dalam sumber yang tersedia. [1][2][3]
Kesimpulan
Sumber yang tersedia tidak menjelaskan satu jawaban khusus mengenai alasan Allah menurunkan setiap musibah. Oleh karena itu, kita tidak perlu menebak-nebak maksud khusus di balik peristiwa tertentu atau mudah menghakimi orang yang sedang mengalaminya. [1][2][3]
Yang dapat ditegaskan adalah bahwa tujuan hidup manusia ialah mewujudkan penghambaan kepada Allah melalui keyakinan, perkataan, dan amal perbuatan yang diridhai-Nya. Orang beriman mengingat Allah, bertambah imannya ketika ayat-ayat-Nya dibacakan, dan bertawakal kepada Rabbnya. [1]
Saat musibah datang, jagalah iman lahir dan batin, pertahankan fondasi ibadah, bertakwalah di mana pun berada, ikuti keburukan dengan kebaikan, dan tetaplah berakhlak baik kepada manusia. Dengan sikap tersebut, masa sulit dapat dihadapi sebagai seorang hamba yang terus mengarahkan hidupnya kepada Allah. [1][2][3]
Referensi
[1] Muslim.or.id — Hijrah Menuju Allah dan Rasul-Nya (https://muslim.or.id/58272-hijrah-menuju-allah-dan-rasul-nya.html)
[2] Muslim.or.id — Penjelasan Hadis Arba’in An-Nawawiyah (Bag. 4): Hadis 3, Islam Dibangun di Atas Lima Perkara (https://muslim.or.id/115640-penjelasan-hadis-arbain-4.html)
[3] Muslim.or.id — Akankah Aku Akan Bermaksiat Lagi Selepas Ramadan? (https://muslim.or.id/112959-akankah-aku-akan-bermaksiat-lagi-selepas-ramadan.html)
[4] Muslim.or.id — Kaidah Ushul Fikih: An-Nahyu (Larangan) Menghasilkan Hukum Haram (https://muslim.or.id/113030-kaidah-ushul-fikih-annahyu-larangan-menghasilkan-hukum-haram.html)