Tiga Bekal Penting Menyambut Ramadhan agar Ibadah Lebih Bermakna

Bagikan :

Ramadhan adalah bulan penuh keberkahan yang selalu dinanti oleh kaum muslimin. Bulan ini bukan sekadar waktu menahan lapar dan dahaga, tetapi momentum besar untuk memperbaiki diri, meningkatkan kualitas iman, dan memperbanyak amal kebaikan. Agar Ramadhan dapat dijalani dengan maksimal dan bernilai ibadah di sisi Allah Ta’ala, para ulama memberikan nasihat penting tentang bekal yang sepatutnya dipersiapkan sebelum bulan suci ini tiba.

Setidaknya ada tiga bekal utama yang perlu disiapkan agar Ramadhan tidak berlalu begitu saja tanpa makna.


1. Membekali Diri dengan Ilmu

Ilmu adalah fondasi utama dalam beribadah. Tanpa ilmu, ibadah berpotensi dilakukan secara asal-asalan dan justru bisa mengurangi nilainya di sisi Allah.

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah pernah berkata:

“Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka kerusakan yang ditimbulkannya lebih banyak daripada kebaikan yang dihasilkan.”
(Al-Amru bil Ma’ruf, hlm. 15)

Tanpa pemahaman yang benar tentang hukum puasa, seseorang bisa terjatuh pada hal-hal yang merusak puasanya. Tanpa mengetahui amalan sunnah Ramadhan, banyak pahala yang terlewat. Bahkan, jika tidak memahami bahwa maksiat dapat mengurangi pahala puasa, seseorang bisa jadi hanya mendapatkan lapar dan dahaga semata.

Perlu diingat, ibadah yang diterima bukan hanya ikhlas, tetapi juga harus sesuai dengan tuntunan Nabi ﷺ. Oleh karena itu, menuntut ilmu tentang puasa dan ibadah Ramadhan adalah bekal yang tidak boleh diabaikan.


2. Memperbanyak Taubat dan Istighfar

Sebelum memasuki Ramadhan, para ulama sangat menganjurkan untuk memperbanyak taubat. Taubat adalah pintu pembuka kebaikan dan jalan untuk memperbaiki diri sebelum memasuki bulan yang mulia.

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan syarat taubat sebagai berikut:

  1. Meninggalkan dosa saat ini
  2. Menyesali dosa yang telah lalu
  3. Bertekad tidak mengulanginya di masa depan
  4. Jika berkaitan dengan hak sesama manusia, maka wajib menyelesaikan atau mengembalikannya

(Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 14:61)

Inilah yang disebut taubat nashuha, taubat yang tulus dan sungguh-sungguh. Dengan taubat, hati menjadi lebih bersih dan ibadah pun terasa lebih ringan.

Di antara doa yang dianjurkan untuk memohon ampunan adalah:

“Ya Allah, ampunilah kesalahanku, kejahilanku, sikapku yang melampaui batas, dan segala hal yang Engkau lebih mengetahuinya dariku. Ampunilah kesalahanku yang kulakukan saat serius maupun bercanda, sengaja maupun tidak sengaja.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Jika pernah berbuat zalim atau menyakiti sesama, segeralah meminta maaf tanpa menunggu Ramadhan atau hari raya, karena kita tidak pernah tahu kapan ajal menjemput.


3. Memohon Kemudahan dari Allah dalam Beribadah

Sebesar apa pun niat seseorang, kemudahan beribadah tetap datang dari Allah. Tanpa pertolongan-Nya, ibadah akan terasa berat karena manusia pada hakikatnya lemah.

Oleh karena itu, menjelang Ramadhan hendaknya kita memperbanyak doa agar Allah memudahkan kita menjalani puasa, shalat malam, bersedekah, membaca Al-Qur’an, dan seluruh amal kebaikan lainnya.

Di antara doa yang bisa diamalkan:

“Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau jadikan mudah, dan Engkau mampu menjadikan kesulitan menjadi mudah jika Engkau kehendaki.”
(HR. Ibnu Hibban)

Dan juga doa:

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu agar dimudahkan dalam melakukan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran.”
(HR. Tirmidzi)


Meneladani Kesungguhan Para Salaf

Generasi salafus shalih memberi teladan luar biasa dalam menyikapi Ramadhan. Mereka berdoa selama enam bulan agar dipertemukan dengan Ramadhan, dan enam bulan berikutnya agar amal mereka diterima oleh Allah.

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Perhatikanlah agar amalan kalian diterima lebih daripada sekadar banyaknya amalan.”
(QS. Al-Maidah: 27)

Hal ini mengajarkan bahwa kualitas dan penerimaan amal jauh lebih penting daripada kuantitas semata.


Ramadhan adalah anugerah besar yang tidak semua orang dapatkan. Maka, sambutlah Ramadhan dengan penuh suka cita dan persiapan yang matang: ilmu yang benar, taubat yang tulus, dan doa yang terus dipanjatkan.

Semoga Allah Ta’ala mempertemukan kita dengan Ramadhan dan menerima seluruh amal ibadah kita di dalamnya. Aamiin.

Kategori
WhatsApp chat

Assalamualaikum,..

Sahabat shalih/shaliha bantu para santri untuk bisa menghafal al-Qur’an yuk, dengan bersedekah di program

Beasiswa untuk Santri Penghafal Al-Qur'an